Ketika organisasi pemuda masih kental dengan semangat kedaerahan, di Bandung sekelompok pemuda membikin organisasi bernama “Jong Indonesia”.

Pamornya boleh jadi kalah silau dengan Jong Java, Jong Sumatranen Bond, dan Jong Ambon yang lebih senior. Jong Indonesia yang lahir pada 20 Februari 1927 mengusung misi segar yang tak main-main, yaitu mendambakan simpul persatuan di antara organisasi-organisasi pemuda di Hindia Belanda, serta diiringi tujuan progresif menyebarkan dan memperkokoh cita-cita persatuan Indonesia. Jong Indonesia dipimpin oleh Soegiono (Ketua), Semawi (Wakil Ketua), Moeljadi (Sekretaris), dan Soepangkat (Bendahara). Mereka adalah pelajar-pelajar di Bandung yang rutin berdiskusi dengan para anggota Algemeene Studie Club, di antaranya Mr. Sartono, Mr. Soenario, dan Mr. Boediono.

Mr. Sartono, Mr. Soenario, dan Mr. Boediono adalah trio pelopor berdirinya Jong Indonesia. Ketiganya merupakan mantan pengurus Perhimpunan Indonesia (PI) kala menempuh pendidikan sarjana hukum di Leiden, Belanda dan bahu-membahu mendirikan kantor pengacara di Bandung. Tak heran, nama ‘Indonesia’ dan semangat kebesaran yang diemban oleh Jong Indonesia menyerupai PI. Apalagi ketiganya merupakan pengurus Perhimpunan Indonesia saat menggagas Manifesto Perhimpunan Indonesia 1925. Manifesto itu menyuarakan konsep persatuan Indonesia, sesuai dengan cita-cita dan tujuan yang ingin dicapai oleh Jong Indonesia.

Memasuki Desember 1927, Jong Indonesia menyelenggarakan kongres pertamanya di Bandung. Dalam kongres tersebut diputuskan pergantian nama “Jong Indonesia” menjadi “Pemoeda Indonesia”. Menurut laporan surat kabar Indische Courant, putusan itu dibuat karena adanya usulan dari beberapa anggota tentang penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dalam rapat-rapat. Dari Kongres Jong Indonesia pertama itu juga tercatat bahwa organisasi ini telah memiliki cabang di Bandung. Yogyakarta, Surakarta, dan Surabaya dengan anggota keseluruhan berjumlah 750 orang. Tjipto Mangoenkoesoemo yang turut hadir pada Kongres Pertama Jong Indonesia menunjukkan rasa simpatinya atas pendirian Jong Indonesia melalui tulisan yang berjudul “Waarom Jong Indonesia?” dalam buletin Jong Indonesia, Juli 1927.

“Dan dengan demikian akhirnya para pemuda mengambil prakarsa. Mereka melakukan ini, menurut pendapat saya, dalam keadaan yang menguntungkan, Kita yang tua-tua, telah bekerja selama keadaan masih memungkinkan. Sekarang kita sudah kehilangan tenaga fisik untuk dapat meneruskan pekerjaan itu dengan kegairahan, dengan kesediaan untuk berkorban seperti dahulu. Saya merasa bahagia dapat menyerahkan pekerjaan itu kepada kaum muda-muda, yang masih penuh gairah. Hidup Jong Indonesia!”

“… Saya merasa bahagia dapat menyerahkan pekerjaan itu kepada kaum muda-muda yang masih penuh gairah.
Hidup Jong Indonesia!”

Tjipto Mangoenkoesoemo

Tekad kuat Jong Indonesia menebar gagasan persatuan Indonesia tak lupa disampaikan melalui kongres pertamanya, mengimbau kepada seluruh organisasi pemuda yang ada di Hindia Belanda agar mencantumkan gagasan “Persatuan Indonesia” dalam anggaran dasar mereka. Keinginan organisasi Jong Indonesia akan persatuan di antara organisasi pemuda memang telah ada semenjak awal pendiriannya. Sebagaimana yang ditulis oleh salah seorang anggota bernama Abdoel Rachman dalam buletin organisasi pada Juli 1927, bahwa persatuan itu perlu demi kemerdekaan Indonesia.

“Dan Kami bertanya-tanya bagaimana jadinya kelak perhimpunan-perhimpunan mereka, bilamana mereka masih tetap penuh sesak dengan rasa kedaerahan, kesukuan, serta kebanggaan atas harkat suku mereka masing-masing. Kami membentuk Jong Indonesia dengan seluruh kesadaran dan kami menyampaikan panggilan suci kami kepada mereka yang merasa dirinya orang Indonesia asli serta pembawa gagasan persatuan untuk menggabungkan diri dengan kami dan membantu kami untuk bersama-sama berjuang di bawah panji-panji kami demi hak suci, kebebasan, dan kemerdekaan Indonesia kita…”

“Dan Kami bertanya-tanya bagaimana jadinya kelak perhimpunan-perhimpunan mereka, bilamana mereka masih tetap penuh sesak dengan rasa kedaerahan, kesukuan, serta kebanggaan atas harkat suku mereka masing-masing…”

Setahun semenjak pendiriannya, anggota Jong Indonesia terdiri atas pelajar-pelajar Algeemene Middelbare School (AMS), mahasiswa-mahasiswa dari Recht Hooge School (RHS), STOVIA, serta Technische Hooge School (THS) di Bandung. Mereka ambil bagian dalam beberapa kegiatan, seperti kepanduan, Indonesische National Padvinders Organisatie (INPO)—dipimpin duet Mr.  Sunario dan Theo Pangemanan, dan pendirian “Tjahja Volkuniversiteit”, para siswa dan mahasiswa tanpa bayaran menyumbangkan pengetahuannya kepada rakyat biasa. Selain itu, Jong Indonesia memberikan ruang bagi kaum perempuan aktif berorganisasi dalam Poetri Indonesia.

Utusan Jong Indonesia (Pemoeda Indonesia) pada Kongres Pemuda Kedua, 27-28 Oktober 1928 di Batavia; dari kiri ke kanan: Katjasoengkana, Inoe Mertokoesoema, dan Sarmidi Mangoensarkoro

Pada Kongres Pemuda Kedua, 27-28 Oktober 1928 di Batavia, Jong Indonesia turut hadir dengan nama organisasi yang telah berubah “Pemoeda Indonesia”. Mereka mengirim beberapa orang wakilnya, seperti Katjasoengkana (Pemoeda Indonesia cab. Surakarta), Sarmidi Mangoensarkoro (Pemoeda Indonesia cab. Yogyakarta) dan Inoe Mertokoesoema (Pemoeda Indonesia cab. Bandung). Bukti kehadiran Pemoeda Indonesia itu terekam dalam isi keseluruhan resolusi ikrar pemuda. (Eko Septian S/Kurator Museum Sumpah Pemuda)

“Kerapatan pemoeda-pemoeda Indonesia diadakan oleh perkoempoelan pemoeda Indonesia yang berdasarkan kebangsaan dengan nama: Jong Java, Jong Soematra (Pemuda Sumatra), Pemoeda Indonesia…”

Daftar Pustaka

Indische Courant 28 Desember 1927

Het Nieuws van den dag voor Nederlandsche Indie 28 Desember 1927

Martha G, Ahmad Dani. 1984. Pemuda Indonesia dalam Dimensi Sejarah Perjuangan Bangsa. Jakarta: Kurnia Esa

Miert, Hans van. 1995. Dengan Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda 1918-1930. Jakarta: Pustaka Utan Kayu

Soeharto, Pitut dan A. Zainoel Ikhsan. 1981. Maju Setapak: Capita Selecta Ketiga Pergerakan Pemuda. Jakarta: Aksara Jayasakti

Safwan, Mardanas. 1979. Peranan gedung Kramat Raya 106, dalam melahirkan Sumpah Pemuda. Jakarta: Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta

3764 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selamat pagi,
Ada yang bisa kami bantu?
Powered by