Diintai intel belanda
 “Para pemuda dimata-matai. Setiap gerak-gerik mereka diawasi. Bahkan, W.R. Supratman, violis Black White Jazz band itu harus masuk ke dalam daftar hitam Dinas Intelijen Belanda”.  

Pasca diberlakukannya kebijakan Politik Etis yang selama ini diperjuangkan oleh kelompok liberal dan sosial demokrat di Belanda, akses pendidikan bagi masyarakat pribumi meluas. Implikasi kebijakan itu ialah munculnya golongan terpelajar di Hindia Belanda, yang disebut van Niel sebagai “elite modern”. Mereka didominasi oleh priyayi terdidik yang memiliki corak pemikiran paham kebangsaan. Kemajuan berpikir telah menyadarkan mereka bahwa rakyat telah tertindas dan melarat di bawah pemerintah kolonial Belanda. (Niel, 1984: 21)

Di sisi lain, Pemerintah Kolonial membentuk suatu dinas intelijen yang disebut Algemeene Recherche Dienst (ARD) pada 24 September 1919. Tujuan pembentukan ARD ialah mengamati dan mengawasi kemungkinan adanya ancaman dari luar negeri pasca Peran Dunia I dan aktivitas -aktivitas revolusioner di dalam negeri. Tugas lembaga ini adalah melakukan pengawasan dan pencegahan dini terhadap orang-orang yang dicurigai, bahkan membahayakan di Hindia Belanda.  Lembaga ini menghimpun dan mencatat bahan-bahan informasi politik yang penting mengenai perorangan, perkumpulan, dan gerakan, serta memelihara tugas harian pengamatan terhadap kelakuan tokoh-tokoh dan organisasi-organisasi aktif. Selain itu, mereka juga mengawasi ucapan-ucapan di depan umum di dalam rapat-rapat. Apabila batas-batas secara hukum diizinkan terlampaui, maka dinas intelijen ini harus bertindak, seringkali dengan peringatan, tetapi jika perlu dengan tindakan yang lebih jauh. (Akbar, 2013: 32-33)

Jalan Berliku Sang Komponis

W.R. Supratman (kiri) bersama adiknya Foto: Koleksi Museum Sumpah Pemuda

W.R Supratman, pencipta ‘Indonesia Raya’ itu pernah mengalami pengalaman pelik berurusan dengan Pemerintah Kolonial, terutama ARD. Jurnalis kelahiran Purweredjo, 19 Maret 1903 tersebut memilih jalan sunyi dalam kehidupan pribadinya. Jodoh tak kunjung bertemu, W.R. Supratman melampiaskan dengan cara lain, yakni menghadiri rapat-rapat politik dan pidato yang menebar benih-benih semangat nasionalisme anti penjajahan. Pilihan yang sungguh berani. Namun, intensitas pergerakan W.R. Supratman menghadiri diskusi itu segera diendus ARD. Mereka melaporkan temuan tersebut kepada Militaire Inlichtinge Dienst (MID) atau Dinas Intelijen Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Komandan Bataliyon MID pun lantas terkejut ketika memperoleh laporan itu dari ARD. Apalagi W.R. Supratman adalah adik ipar dari Sersan WM. van Eldik yang merupakan seorang Sersan Instruktur KNIL. Sepengetahuan MID, W.R. Supratman merupakan violis yang mahir dan giat dalam bermusik, bukan sebagai aktivis pergerakan. 

Kabar W.R. Supratman intensif mengikuti kegiatan bersifat politik pun diterima oleh van Eldik dari atasannya. van Eldik diminta agar secepat mungkin melarang W.R. Supratman untuk tidak berhubungan dengan orang-orang atau organisasi-organisasi yang berbau politik. Jika didapati  laporan serupa, van Eldik akan diberi sanksi yakni keluar dari perumahan kompleks militer. (Sularto, 1985: 43)

Lalu, van Eldik segera mengabari persoalan  yang diterimanya kepada Rukiyem, istri sekaligus kakak kandung W.R. Supratman. Suami-istri itu berbicara dan bersepakat untuk mendengar keterangan dari W.R. Supratman terlebih dahulu. Ketika ditanyakan langsung, W.R. Supratman tidak menyangkal laporan tersebut. Dia hanya meluruskan bahwa keterlibatannya hanya sebagai orang awam yang ingin memperoleh gambaran mengenai masalah politik di Hindia Belanda. Dia juga mengungkapkan kalau sekalipun tidak terlibat dalam organisasi-organisasi politik. Ia tidak menutupi bahwa kesadaran politik dan rasa nasionalisme lahir dari diskusi-diskusi yang diikutinya.

van Eldik sungguh memahami maksud adik iparnya. Dia hanya meminta pengertian W.R. Supratman sebagai seorang bintara Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Apalagi dirinya sebentar lagi hendak pensiun. Kakak W.R. Supratman yang juga istri van Eldik turut menambahkan apakah adiknya tega merusak nama baik serta karier suaminya. Luluh batin W.R. Supratman mendengar curahan hati sang kakak. Dia hanya mampu menjawab dengan permintaan maaf sekaligus berjanji tidak akan lagi berhubungan dengan orang-orang atau organisasi-organisasi politik. Beberapa hari kemudian setelah permintaan maaf itu dilontarkan, rechercheur (Agen Penyelidik ARD) tidak lagi menemukan W.R. Supratman hadir dalam diskusi-diskusi politik atau berhubungan dengan organisasi politik.

Meskipun Agen ARD akan senantiasa siap mengawasi, sekalipun harus menangkapnya. W.R. Supratman diam-diam tetap memerhatikan aktivitas politik kaum pergerakan melalui surat kabar dan majalah. Yang paling menggugah perhatiannya adalah sebuah pernyataan yang dirilis majalah “Indonesia Merdeka” pada Maret 1924. Dalam pernyataan tersebut dijelaskan bahwa para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri Belanda mengubah nama organisasi Indonesische Vereniging menjadi Perhimpunan Indonesia. Selain itu, mereka turut mengganti nama majalah organisasi “Hindia Putra” menjadi “Indonesia Merdeka “. Tujuan perjuangan Perhimpunan Indonesia adalah Memerdekakan Indonesia (de vrijmaking van Indonesie) yang sama artinya dengari mencapai Kemerdekaan Indonesia. Pemyataan itu dibuat dalam majalah “Indonesia Merdeka” Maret 1924. Pada dasarnya hal itu itu yang memicu hasrat W.R. Supratman meninggalkan Makassar demi merantau ke tanah Jawa untuk mengikuti lebih lanjut dan melibatkan diri dalam perjuangan pergerakan kaum muda. (Sularto, 1985: 46-47)

Eko Septian Saputra, S.Hum.

Referensi:

Akbar, Allan. 2013. Memata-Matai Kaum Pergerakan: Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda 1916-1934. Jakarta: Marjin Kiri.

Bloembergen, Marieke. 2011. Polisi Zaman Hindia Belanda. Jakarta: Kompas.

Niel, Robert van. 2009. Munculnya Elite Modern Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya.

Rahman, Momon Abdul. 2007. Wage Rudolf Supratman: Sang Pencipta Lagu Indonesia Raya. Jakarta: Museum Sumpah Pemuda. Sularto, Bambang. 1985. Wage Rudolf Supratman. Jakarta: Direktorat Sejarah Nilai dan Tradisional, Depdikbud.

850 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selamat pagi,
Ada yang bisa kami bantu?
Powered by