Siti Soendari Darmabrata tak segan-segan berpidato dalam bahasa Melayu pada Kongres Pengajaran Kolonial Pertama yang digelar di Den Haag, Belanda pada Agustus 1916. Hebatnya, Ia berbicara mengenai nasib kaum perempuan. Suwardi Suryaningrat yang turut hadir berperan mengalihbahasakan pidato Siti Soendari dalam bahasa Belanda. Kongres dipimpin oleh J. H. Abendanon.

Berikut ini adalah saduran pidato Siti Soendari yang dikutip dari Eerste Koloniaal Onderwijscongres Stenografisch Verslag. Saduran ini diselaraskan seperlunya dengan ejaan yang berlaku sekarang.  

Siti Soendari Darmabrata, dikenal gigih memperjuangkan nasib kaum perempuan. (Foto/ Harry A Poeze, Di Negeri Penjajah)

Paduka tuan President. Dengan segala kegirangan hati saya melihat, yang dalam persidangan ini juga dirembug keperluan perempuan bangsa bumiputra Hindia. Tentu sekalilah yang demikian itu menjadikan girang hati saya, juga akan menjadikan senangnya bangsa kita perempuan bumiputra di seluruh tanah Hindia. Dari sebab saya belum pandai bahasa Belanda, akan tetapi merasa ingin sekali turut bicara akan wakilnya bangsa kita perempuan tanah Jawa melahirkan pendapatannya, dari itu saya tidak akan malu berkata dengan bahasa Melayu. Barangkali banyak juga dalam perkumpulan ini, yang dapat mengerti.

“… Saya tidak akan malu berkata dengan bahasa Melayu…”

Perihal pengajaran bagi perempuan Jawa barangkali sama juga dengan pengajaran bagi sekalian perempuan di seluruh Hindia, akan tetapi oleh sebab saya hanya mengetahui keadaan di tanah Jawa, tema berani turut rembug keperluan perempuan Jawa saja.

Sepanjang pendapatan saya tiada perlu lagi membicarakan hal faedahnya pengajaran untuk bangsa perempuan Jawa. Sekalian tuan-tuan tentu maklum.

Yang pertama kita perempuan nyatalah guru yang nomor satu bagi anak-anak kita. Sebab paling dahulu guru anak-anak itu ialah ibunya sendiri. Lain dari pada itu bangsa perempuan memang dikodratkan menjadi guru. Dari itu perlu sekali kita terpelajar.

“…Perempuan nyatalah guru yang nomor satu bagi anak-anak kita. Sebab paling dahulu guru anak-anak itu ialah ibunya sendiri…”

Kedua : jika bangsa laki-laki terpelajar, kita juga harus tidak ketinggalan. Sebab perlu laki-istri dapat merasakan satu sama lain keadaanya jika tida begitu laki-laki kita tentu mencari kesenangan di lain tempat. Jikalau bangsa laki-laki Jawa hendak mencari istri, tentu mencari yang pantas jadi suaminya, yaitulah yang timbang kepinterannya: tetapi jika ia tidak dapat di antara bangsanya (sebab kurang perempuan yang berpengetahuan) tentu mereka terpaksa cari perempuan lain bangsa. Sekarang apa jadinyakah bangsa kita perempuan.

Ketiga : masih banyak sekali faedahnya. Terpendek pelajaran guna perempuan Jawa artinya menjunjung bangsa. Bagaimanakah pengajaran itu harus diajarkan? Ya, itu tersilakan kepada sekalian tuan yang mengerti. Saya hanya dapat mengaturkan pertimbangan begini: Hal pengajaran perempuan sedapat-dapat sama tingginya sama baiknya dengan pelajaran untuk bangsa laki-laki, ini perkara hal pelajaran yang umum, seperti: hitung, menulis, membaca dll. Sudah tentu saja bangsa perempuan juga harus mempelajari pekerjaan perempuan seperti menjahit, masak-masak, membatik, dll.

“…Hal pengajaran perempuan sedapat-dapat sama tingginya sama baiknya dengan pelajaran untuk bangsa laki-laki…”

Hal bahasanya itu menurut pikiran saya yang paling perlu ialah bahasanya sendiri, yaitu bahasa Jawa. Juga kita harus pandai bahasa Melayu, sebab itu di tanah Hindia ialah bahasa umum. Lain dari itu guna bangsa perempuan, yang hendak meneruskan pelajarannya, juga perlu belajar bahasa Belanda. Selama sekolah-sekolah yang tinggi masih memakai bahasa Belanda, maka mereka itu harus pandai bahasa Belanda juga.

“…Juga kita harus pandai bahasa Melayu, sebab itu di tanah Hindia ialah bahasa umum…”

Hal sekolah berasrama menurut pedapatan saya perlu sekali bagi segala sekolah, yang lebih tinggi, seperti sekolah guru; dokter, dukun beranak, dll.  Perlu sebab tentu sekolah-sekolah itu tidak akan terdapat di masing-masing tempat. Jika tidak ada sekolah berasrama barangkali anak-anak itu tidak suka datang. Dalam sekolah berasrama itu harus diadakan penghidupan seperti penghidupan umum bangsa Jawa. Artinya jangan sekali anak-anak perempuan itu jadi beradat lain, jaitu hilang kebangsaannya.

Maka, dari itu harus sekolah berasrama itu dikepalai oleh perempuan bangsa Jawa yang terpelajar dan yang berbudi. Jikalau belum didapatnya perempuan yang semacam itu, boleh juga dikepalai oleh perempuan bangsa Eropa yang terpelajar dan berbudi juga. Tetapi masih perlu juga diadakan pembantu bangsa Jawa, perempuan yang beristiadat dan yang baik kelakuannya. Jangan sekali anak-anak dalam sekolah berasrama itu di belakang hari membuang adat Jawa dan suka memakai adat lain yaitu adat Belanda. O, itu jangan sekali-kali. Tetapi kita orang harus juga mengingati zaman: yaitu adatnya sendiri yang tidak baik harus dilempar yang baik harus dipakai dan yang kurang baik harus diperbaiki.

Lain dari itu jika ada yang suka belajar agama Islam, harus diperkenankan, tetapi jangan dengan paksa. Perihal perlu-tidaknya mengadakan guru perempuan bagi saya cuma ada pendapatan satu. Tentu saja kita perlu mempunyai guru perempuan bangsa kita sendiri, lebih banyak lebih baik. Pekerjaan guru itu sesungguhnya pekerjaan perempuan, sebab kita orang perempuan sudah dikodratkan jadi penuntun anak.

“…Pekerjaan guru itu sesungguhnya pekerjaan perempuan, sebab kita orang perempuan sudah dikodratkan jadi penuntun anak…”

Bagimanakah pengajaran bakal guru-guru perempuan? Hal ini tersilah kepada sekalian yang mengerti hal itu. Cuma saya hendak memperingatkan demikian sedapat-dapat, yaitu artinya jikalau tidak bertentangan dengan keperluan penting, pelajaran guru perempuan haruss sama dengan pelajaran bagi guru laki-laki.

Paduka tuan President. Pada pengabisan, kita berdo’a pada Tuhan Allah, moga moga terdapatlah apa yang dikehendakkan oleh kongres ini. Pada saät ini maka Rohnya almarhumah R. A. KARTINI melihat daya-upaya kita. Rohnya R. A. KARTINI itulah suluh kita. Amin! Dari sebab tuan Voorzitter sudah mengizinkan saya berkata di tempat ini, tidak lain saya menghaturkan banyak terima kasih. (Eko Septian S/Kurator)

1105 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selamat pagi,
Ada yang bisa kami bantu?
Powered by