Dedikasi sepanjang hayat Om No dan SM Amin untuk bangsa dan negara Indonesia

Kongres Pemuda Kedua adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Dihadiri oleh pemuda-pemudi dari latar belakang yang berbeda. Kongres ini telah menyadarkan para pemuda bahwa perjuangan tanpa persatuan dan kesatuan adalah sebuah keniscayaan. Di antara para pemuda itu hadir antara lain, Arnold Mononutu, anggota Jong Celebes dan Sutan Mohammad Amin, anggota Jong Sumatranen Bond.

Arnold Mononutu

Sosok Arnold Mononutu atau yang juga disapa Om No, memang masih asing di telinga masyarakat Indonesia. Namun tidak di Sulawesi Utara, di tanah kelahirannya ini ia cukup dikenal luas, sampai namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan di kota Manado. Bagi masyarakat Sulawesi Utara, Arnold ialah tokoh yang sangat berpengaruh dan dihargai sebagai putra daerah yang gagah berani dan pejuang nasional. Ia lahir di Manado pada tanggal 4 Desember 1896,, yang oleh orang tuanya diberi nama Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu. Ayahnya bernama Karel Charles Wilson Mononutu dan ibunya bernama Agustina van der Slot.

Ayah Arnold adalah seorang pegawai negeri (ambtenaar) Hindia Belanda. Kakeknya yang juga bernama Arnold Mononutu adalah orang Minahasa pertama yang menyelesaikan studi di sekolah untuk pelatihan dokter pribumi (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, Stovia) di Batavia.

Ketika Arnold berusia dua tahun, ayahnya ditugaskan ke Gorontalo. Empat adiknya lahir di Gorontalo, tetapi sayangnya keempatnya meninggal masih berusia antara lima dan enam bulan. Pada tahun 1903, Mononutu mengikuti sekolah dasar bahasa Belanda (Europeesche Lagere School, ELS) di Gorontalo. Ia melanjutkan studinya di tingkat sekolah yang sama di Manado setelah ayahnya dipindahtugaskan ke Manado. Pada tahun 1913, Mononutu belajar di sekolah menengah Belanda (Hogere burgerschool, HBS) di Batavia di mana ia bertemu dan berteman dengan A.A. Maramis yang juga dari Minahasa dan Achmad Subardjo

Pada tahun 1920, Arnold berangkat ke Eropa untuk memulai studinya di Belanda. Pada awalnya dia belajar di beberapa kursus persiapan masuk kuliah. Setelah memiliki sertifikat kursus, dia memutuskan untuk mendaftar di Akademi Hukum Internasional Den Haag (Académie de droit internasional de La Haye di Den Haag). Sebetulnya pada awal-awal kuliah di Universitas tersebut, sikap dan jiwa nasionalismenya belum bertumbuh baik. Namun, setelah menghadiri berbagai rapat Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging) di Belanda, rasa nasionalisme untuk Indonesia mulai bertumbuh dalam dirinya. Bahkan lemudian dia menjadi sangat terikat dan terlibat dalam organisasi tersebut. Tidak mengherankan jika kemudian dia terpilih sebagai wakil ketua pada periode yang sama di mana Mohammad Hatta terpilih sebagai bendahara.

Bersama Perhimpunan Indonesia, Arnold Manonutu memperjuangkan cita-cita Indonesia Merdeka

Akhirnya, pada bulan September 1927 dia berhasil pulang ke Indonesia. Pengalaman hidup di negeri orang tanpa biaya gara-gara dihambat pemerintah kolonial, justru semakin menumbuhkan jiwa patriotisme dan nasionalisme. Beliau kian bersemangat terlibat dalam kegiatan politik melawan pemerintah kolonial. Dia kemudian menjadi anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) yang baru dibentuk waktu itu. Melalui partai itulah untuk pertama kali dia bertemu dengan pendiri partai yakni Ir. Soekarno.

Selama beraktivitas di Jakarta, beliau menyewa sebuah kamar di rumah yang sama dengan Suwirjo dan Sugondo Djojopuspito yang. Kedua orang itu adalah pemimpin Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia. Organisasi ini adalah bagian dari Kongres Pemuda Indonesia Kedua pada tahun 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Bergaul dengan kedua orang itu, menambah wawasan dan padangannya tentang perjuangan kemerdekaan bangsanya. Dia kemudian menjadi aktivis Jong Minahasa (1919-1920) dan Jong Celebes (1927).

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Belanda berupaya membentuk sebuah negara federasi yang terpisah dari Republik Indonesia. Maka dibentuklah Negara Indonesia Timur (NIT) pada tahun 1946. Melihat hal itu, Arnold berjuang memfokuskan usahanya untuk membantu rakyat Indonesia Timur untuk menentukan sikap politiknya, yakni tetap bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setelah Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947, Arnold mendirikan Gabungan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Organisasi ini berusaha menyoroti tindakan Belanda yang berupaya untuk kembali menjajah Indonesia.

Bersama beberapa teman, dia kemudian mendirikan organisasi politik yang dikenal dengan nama Persatuan Indonesia. Bersamaan dengan itu, diterbitkan sebuah koran bernama Menara Merdeka, yang bertujuan untuk mempromosikan cita-cita Persatuan Indonesia. Koran ini memberikan pesan-pesan pro-republik dan mengkritik upaya-upaya Belanda untuk membentuk sebuah negara yang terpisah dari Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan.

Perjuangan Arnold Mononutu untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bebeas dari agresi dan intimidasi Belanda begitu kuat dan nyata, sehingga dia kemudian diangkat dan ditunjuk memegang beberapa jabatan  startegis NKRI. Pada bulan Desember 1949–1950 Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu menjadi Menteri Penerangan Kabinet RIS. Pada tahun 1951-1952 menjadi Menteri Penerangan Kabinet Sukiman-Suwirjo, dilanjutkan tahun 1952-1953 sebagai Menteri Penerangan pada Kabinet Wilopo.

Salah satu perjuangan Arnold yang tidak banyak diketahui orang adalah nama ibu kota Republik Indoesia. Nama Batavia dipakai sekitar tahun 1621 sampai tahun 1942, ketika Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang. Pada masa kepemimpinan Jepang, nama kota diubah menjadi Jakarta. Perubahan nama itu dilakukan sebagai bagian dari de-Nederlandisasi. Nama Jakarta pun kian popular, walaupun belum ditetapkan secara resmi. Pengukuhan nama Jakarta baru dilakukan pada 30 Desember 1949 oleh Arnold Mononutu sebagai Menteri Penerangan saat itu. Pengukuhan nama Jakarta dilakukan pria bernama lengkap Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu itu sesudah berlangsungnya Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda.

Konstribusi Arnold dalam dunia Pendidikan sangat nyata ketika beliau diangkat menjadi Rektor ke-3 Universitas Hasanuddin dengan gelar Profesor atau Guru Besar pada tahun 1960 – 1965. Dalam lima tahun jabatannya sebagai rektor, jumlah mahasiswa bertumbuh dari 4000 mahasiswa menjadi 8000 mahasiswa Pada awal jabatannya, universitas ini hanya memiliki tiga fakultas yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, dan Fakultas Kedokteran. Selama masa jabatannya, enam fakultas baru didirikan yakni Fakultas Ilmu Pasti dan Alam, Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan, Fakultas Sastra, Fakultas Sosial Politik, dan Fakultas Teknik. Dengan demikian, dalam kepemimpinannya pada universitas terkemuka di Indonesia Timur itu, semakin banyak anak bangsa yang dididik menjadi generasi penerus perjuangan bangsa Indonesia dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sutan Mohammad Amin

Sutan Mohammad Amin saat menjabat Gubernur Riau

Pemuda kelahiran Lhokngah pada 22 Februari 1904, Sutan Muhammad Amin (SM Amin) yang juga dikenal dengan nama Kroeng Raba Nasution, merupakan anak ke lima dari pasangan Siti Madinah dengan Muhammad Taif. Ayahnya merupakan seorang pengawas sekolah Melayu yang sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. SM Amin memulai sekolahnya di ELS Sabang pada 1912 dan menyelesaikannya pada 1919. Setelah lulus Ia melanjutkan ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen/Sekolah kedokteran) Batavia. Di STOVIA inilah SM Amin mulai aktif dalam organisasi Jong Sumateranen Bond dan menjadi anggota aktif dalam setiap diskusi yang dilaksanakan oleh organisasi tersebut. Menginjak tahun kedua berada di Stovia, SM Amin mulai merasa tidak nyaman dengan suasananya, oleh karena itu, Ia Pindah ke MULO Pasar Baru dan menamatkannya pada 1924. Setelah itu Ia melanjutkan sekolah ke AMS (Aglemeen Metddelbare School) Yogyakarta dan menyelesaikannya pada 10 Mei 1927.

 Selain aktif dalam organisai Jong Sumatrenen Bond, SM Amin juga aktif dalam organisasi Jong Islamieten Bond dan Perhimpunan Perhimpunan Pelajar Indoneisa (PPPI), keaktifannya dalam organisasi kepemudaan melibatkan Ia dalam Kongres Pemuda Kedua pada 27-28 Oktober 1928. Hal ini bersamaan saat Ia melanjutkan pendidikan ke sekolah tinggi hukum RHS (Rechthoogeschool) Batavia dan menyelesaikannya pada 4 Agustus 1933 dengan gelar Meester in de Rechten.

Sutan Mohammad Amin duduk di sebelah kiri Mohammad Yamin saat menjadi pengurus Jong Sumatranen Bond

Diawal karirnya sebagai seorang pengacara, pada 1934 Ia memperoleh advocat procureur raad van Justitie Medan untuk membuka praktik di Kutaraja, profesi sebagai advokat ini ia tekuni hingga tahun 1941 kemudian Ia menjadi hakim Tiho Hoin untuk daerah Sigli pada 1942. Pada masa pendudukan Jepang SM Amin menjadi direktur sekolah Menengah Tyu Gakko. Pada 1946- 1949 SM Amin diangkat menjadi Gubernur Muda Sumatera Utara hingga periode berikutnya pada 1953 – 1956. Tidak berhenti disitu, ketika saat dikeluarkannya UU No.61 tahun 1958 tentang status Provinsi Riau sebagai Provinsi baru, maka ditunjuklah SM Amin sebagai Gubernur pertama Riau dan secara resmi dilantik pada 27 Februari 1958. SM amin selain aktif dalam pemerintahan juga aktif menulis.

Karya-karyanya yang diterbitkan dalam bentuk buku antara lain; Indonesia dibawah Rezim Demokrasi terpimpin, Demokrasi Dalam Bahaya, Demokrasi Selayang Pandang dan masih banyak buku terbitan lainnya yang sudah dicetak maupun yang belum di cetak. Atas berbagai peran dan jasanya, Ia dianugerahkan beberapa tanda kehormatan oleh Pemerintah Indonesia, yaitu; tanda kehormatan Satya Lencana Perjuangan Kemerdekaan dari Presiden, Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama sebagai peletak Dasar-Dasar Otonomi Daerah, Tanda kehormatan Bintang Mahaputra Utama dan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana. SM amin meninggal pada 16 April 1993.

Referensi

Nalenan, Ruben. 1981. Arnold Manonutu: Potret Sang Patriot. Jakarta: Gunung Agung.

Azhari, Ichwan. 2015. Peran Mr. S.M. Amin dalam Sumpah Pemuda dan Pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Jakarta: Museum Sumpah Pemuda.

https://lpmpsulawesiutara.kemdikbud.go.id/arnoldus-isaac-zacharias-mononutu/ diakses pada 9 November 2020 Pukul 09.58 WIB.

1602 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selamat pagi,
Ada yang bisa kami bantu?
Powered by